Jumat, 19 Juni 2009

TITANIC VERSI MANAGEMENT

dari harian REPUBLIKA, terbitnya aku lupa kapan...........


PELAJARAN DARI TITANIC

Oleh Hermawan Kartajaya

Anda tahu, show apa yang lagi best seller di New York ? Bukan Phantom of the Opera, bukan Miss Saigon dan bukan Cats! Tapi sudah muncul show baru yang sangat laris itulah Titanic!

Ketika saya masih mengikuti program eksekutif di University of Michigan di Ann Arbor, saya sudah tahu tentang hal itu dari New York Times. 'Titanic' adalah best seller Broadway nomor satu! Maksudnya penjualan tiketnya melebihi show-show lain. Nomor dua adalah 'Chicago' yang juga meru­pakan pendatang baru. Sedang Phantorn of the Opera' yang product life cycle masih tetap panjang, setelah bertahun-tahun manggung di Brodway ada di peringkat ketiga! Karena itu saya langsung minta pada Prof Warren Keagan, partner saya yang ada di New York untuk men-book dua tiket untuk pertunjukan tanggal 25 Oktober. Maklum, saya berkelana cuma dua malam, di New York. Jadi kalau semuanya tidak dirancang dulu, jauh-jauh hari, biasanya malah repot. Dan setiap kali ke New York, saya memang selalu ke Broadway. Kenapa? Di situ saya dapat kepuasan nonton sebuah karya seni yang komplit. Anda tidak cuma melihat-lihat gerakan-­gerakan yang penari yang indah. Tapi juga suara yang merdu disertai orkestra lengkap yang main secara live!

Selain itu, dekorasi yang klasik maupun kadang­-kadang high-tech memberi suasana yang unik dari tiap show. Bukan lagi, setiap show dengan cerita berbeda selalu mengundang pelajaran 'hidup' filosofis tersendiri! Ternyata, memang benar dugaan saya. Walaupun, masih dua minggu, Keagan mengabarkan bahwa semua tiket sudah sold-out untuk malam itu! Jangan harap ada 'catutan'! Yang bisa dilakukan biasanya adalah antre di depan loket dua jam sebelum show dimulai.

Seperti telah diduga, semua seat terisi penuh. tapi kami toh tetap memperoleh seat meskipun Keagan dan istrinya terpaksa diberi dua kursi 'biasa'. Terpisah dari saya dan Michael. Show dimulai dengan mengisahkan keberangkatan Titanic dari pelabuhan New Southampton pada tanggal 10 April 1912! Digambarkan di situ bahwa semua pengunjung merasa sangat gembira. Betapa tidak! Titanic adalah kapal tercanggih pada masanya. Kapal paling aman secara teknologi. Dan Titanic akan berlayar menyeberangi Samudra Atlantik Menuju ke New York!

Pada mulanya perjalanan lancar-lancar saja. Bahkan kapten kapal Titanic dalam keadaan gembira. Karena mungkin pelayaran itu merupakan yang terakhir baginya! Mestinya dia mau pensiun, tapi dipanggil lagi untuk memimpin pelayaran tersebut. Sebagai pelaut mana bisa dia menolak memimpin pelayaran sebuah kapal sehebat itu! Pelayaran itu sendiri istimewa. Kenapa? Karena secara kebetulan desainer kapal dan bahkan direktur perusahaan pelayanan yang punya Titanic juga ikut dalam rombongan.

Karena itu, hamper tiap malam ada pesta pora di kapal. Si Direktur begitu bangganya akan Titanic dan selalu naik ke kamar kemudi untuk ngobrol dengan kapten. Dan karena semua lancar, dia memerintahkan kapten untuk menaikkan kecepatan. Kenapa? Dia mau sampai di New York lebih cepat! Selain itu, dia juga ingin menunjukkan pada penumpang bahwa Titanic adalah kapal 'super hebat'! Karena itu, dari waktu ke waktu, kecepatan kapal dinaikkan terus.

Pada waktu itu para kelasi yang ada di kamar bahan bakar sebenarnya sudah merasakan kenaikan-kenaikan yang tidak wajar. Tapi mereka nggak bisa apa-apa. Pada tanggal 13 April, ada sinyal morse yang masuk. Memperingatkan bahwa hati-hati akan gunung es! Tapi karena sinyal tersebut tidak jelas, dibiarkan saja. Tanggal 14 April, sinyal masuk lagi jelas. Tapi tidak sama! Yang satu menyatakan 'gunung es' ada di arah ini, yang lain lagi di arah itu. Kapten kapal tenang-tenang saja. Dia memerintahkan pengamatan oleh mata saja!

Akhirnya, pada tanggal 14 April 1912 menjelang tengah malam, si pengamat tahu-tahu melihat gunung es yang sangat besar sudah berada 10 mil di depan kapal. Semua panik! Mesin kapal lang­sung dimatikan! Tapi karena kecepatan terlalu tinggi, kapal nggak bisa direm dan menubruk gunung es tersebut! Jumlah safety-boat tidak cukup cuma 21 buah! Sengaja diturunkan untuk memberikan kenikmatan pada penumpang kelas satu. Wanita dan anak-anak di dahulukan!

Akhirnya keesokan harinya ketika dihitung dari kurang lebih 1.500 penumpang cuma sekitar 700 orang yang tertolong. Kapten kapal mati secara gagah berani, bahkan tanpa pakai pelampung apapun. Sedangkan Direktur diam-diarn menyelinap ke sebuah safety boat. Ada sepasang orang tua yang sudah kawin 40 tahun tidak mau dipisah, akhirnya mati bersama! Pertunjukan selesai!

Ada tiga pelajaran yang saya tarik dari Titanic ini. Pertama, semakin cepat kita menyju ke arah yang salah, semakin cepat kita celaka. Karena itu strategi mesti benar dulu, baru implementasi. Kalau nggak, sebuah perusahaan akan lebih cepat hancur.

Kedua, hati-hati dengan perubahan lingkungan gunung es yang cuma kelihatan 10 persen di atas permukaan Iaut. Perusahaan harus punya 'radar' untuk memantau bisnis weak signal harus diperhi­tungkan. Kalau tidak akan hancur.

Ketiga, bad news is good news dibanding show lain, Titanic tidak istimewa tapi berapa orang berebut nonton. Kenapa? Orang suka melihat pen­deritaan orang lain. Itulah strategi media massa yang selalu berusaha untuk menjual bad news untuk dapat profit!




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar