Jumat, 26 Juni 2009

DRAKULA HAUS CINTA

cerita terbit majalah saku INTISARI pada bulan JULi 1993, bagus untuk di jadikan sinetron ataupun film bergenre thriller.......... yang baca di tanggung ga bisa tidur dehhhhh.... selamat membaca yaaaa, sebelum tidur baca doa dulu BISMIKA ALLAHUMMA AHYA WA AMUTT biar ga dapat NIGHTMARE....he33333x

_____ Gumpalan awan gelap melayang rendah, se­akan-akan menyapu wajah bulan yang pucat. Mendekati tengah malam, angin kencang meratap di antara batu-batu nisan Pe­makaman Hamburg-Ohlsdorf di Jerman Barat. Sementara itu titik-titik hujan menampari jendela-jendela kamar mayat yang gelap. Bangsal tempat mayat-ma­yat dibaringkan tidak diberi penerangan maupun pema­nasan. Toh jasad-jasad yang sedang menunggu di­ makamkan tidak me­merlukannya. Bah­kan bangsal itu pun tidak di­ kunci, apala­gi dijaga. Soalnya, penghuni­ nya t­idak akan melarikan. diri. Tidak ada pula manusia yang mau masuk ke sana, kecuali orang gila.

_____ Namun, ketika lonceng gereja berdentang 12 kali, ada sesuatu yang bergerak di bangsal yang gelap dan di­ngin itu. Kedengaran bunyi korek api digesekkan, lalu cahaya Jilin yang kekuning­kuningan menyebabkan ba­yang-bayang aneh di dinding seakan-akan menari-nari.

Terdengar tutup peti-peti jenazah didorong, disusul ge­meresak kertas penutup mayat. Jasad-jasad yang ada di sana masih telanjang, belum didandani. Salah satu di antaranya ialah jasad Kathe Bauer, se­orng gadis berumur 12 tahun .

Ban belakang sebuah mobil telah menggilas wajahnya yang cantik. Karena itulah peti jenazahnya tidak akan dibuka pada upacara pemakamannya hari Minggu.

Mayat-mayat bangun

Keesokan harinya, 15 April 1971, petugas kamar mayat bernama Gerd Frohlich, da­tang ke tempatnya bekerja pukul 08.15. Frohlich bukanlah manusia penakut atau penjijik. Tapi begitu masuk ke bangsal tempat menaruh mayat, ia terkejut setengah mati.

Beberapa peti jenazah ter­buka. Mayat-mayat duduk bersandar di peti masing-ma­sing. Yang paling mengerikan ialah jenazah Kathe. Pergelangan tangan kirinya luka dalam. Cairan kental kehitam­-hitaman dari nadinya menodai luka itu dan juga pelbagai bagian tubuhnya: bibirnya, payudaranya .... Seakan-akan ada makhluk yang mengisap nadinya lalu menciumnya. Ada juga bekas-bekas gigitan di paha dan lehernya.

Di nadi kirinya terdapat pula darah makhluk hidup yang kelihatan relatif masih segar, berbeda dengan darah mayat yang menggumpal kecoklatan. Sementara itu di tepi-tepi peti didapati sisa-sisa lilin yang habis terbakar. Lilin milik kamar jenazah.

Frohlich segera berlari ke WC dan muntah-muntah. Se­telah menyeka mulutnya, ia terhuyung-huyung ke kantor­nya untuk menelepon polisi. Ia mampu menggambarkan ke­adaan di bangsal secara jelas sehingga Inspektur Frank Lu­ders dari Departemen Penyi­dikan Kriminal merasa perlu datang sendiri.

Luders ditemani asistennya, Sersan Detektif Max Peters dan Dr. Ludwig StrauB. StrauB segera memeriksa mayat Kathe Bauer, sementara Peters menaburi tepi-tepi peti jenazah dengan bubuk khusus untuk mencari sidik jari.

"Banyak sekali sidik jari di sini," katanya. "Mereka me­rampok benda-benda dalam peti barangkali."

"Huh! Merampok? Mayat-­mayat ini dipakaikan baju pun beluml Boro-boro dibekali barang berharga," jawab Dr. StrauB.

Mungkin mereka tidak tahu kalau mayat-mayat ini belum dibekali apa-apa," komenntar Inspektur.

Dr. StrauB berpendapat la merasa kamar mayat ini kedatangan pemakan ma­yat yang necrophile, yaitu se­orang yang memiliki dorongan untuk menyebadani mayat.

Ada sebagian kecil daging nayat yang hilang di tempat yang memperlihatkan bekas gigitan.

Selain itu, nadi di perge­langan tangan jenazah me­nunjukkan bekas diisap.

Di luka pergelangan kiri ini terdapat darah makhluk hidup. Tampaknya ia mencoba bertukar darah dengan ma­yat," tambah Dr. StrauB. "Ada hal lain yang tidak berhasil dilakukannya, walaupun ia sudah berusaha, yaitu memperkosa mayat." "Berarti ia penderita pe­nyakit jiwa yang berbahaya," komentar Inspektur Luders.

"Ya!"

"Kalau begitu, kite harus segera menangkapnya, supaya ia tidak mempraktekkannya pada manusia hidup."

Luders pun segera menge­rahkan orang-orangnya untuk mengusut. Namun, mereka ti­dak mampu menemukan pe­tunjuk sedikit pun perihal identitas si pengunjung kamar mayat yang ganjil itu.

Semua kantor polisi di Jer­man dikirimi keterangan peri­hal peristiwa aneh tersebut, tetapi Desa Bisselmark yang terletak ± 60 km di sebelah timur Hamburg tidak mendapat keterangan itu, sebab di desa yang sangat kecil itu tidak ada kantor polisi.

Tanggal 17 April 1971 pagi, pemilik perusahaan pengurus jenazah di desa itu merasa kaget sekali ketika membuka ruang tempat jenazah disemayamkan. Saat itu cuma ada satu jenazah di sana, yaitu jenazah seorang wanita umur 40-an, yang meninggal karena kanker dua hari sebelumnya.

Wanita itu didapati dalam keadaan duduk bersandar di petinya dengan lutut tertekuk. Pakaian dalamnya tergunting. Kedua matanya melek, karena diganjal dengan batang korek api. Di sekeliling peti terdapat sisa lilin yang dipasang mem­bentuk lingkaran. Terdapat pula bekas-bekas sepatu, se­akan-akan seseorang melaku­kan tarian aneh di situ. Bekas lumpur itu jelas, sebab semalam turun hujan.

Saking terkejut dan juga karena takut disangka sebagai pelaku perbuatan yang tidak senonoh itu, buru-buru mayat dirapikannya. Dibersihkannya lantai sampai tidak tertinggal bekas sedikit pun. Ia tidak berani menceritakan peristiwa itu kepada siapa pun.

Pencuri kepala

Pulau Sylt di Laut Utara terkenal sebagai perkampung­an nudis terbesar di Jerman, bahkan di Eropa.

Tanggal 4 Mei 1971, belum banyak turis nudis berlibur ke sana, sebab udara masih dingin. Westerland, kota utama di pulau itu, masih sepi pengunjung. Pukul 08.00 Pendeta Harold Segel masuk ke gere­janya. Didapatinya peti je­nazah Ny. Gertraud Frankle terbuka. Wanita berumur 52 tahun itu meninggal dua hari sebelumnya akibat gangguan pembuluh darah. Jenazahnya masih terbaring rapi dengan mata terkatup. Namun, dari dadanya menonjol pula pisau berburu.

Buru-buru Pendeta Segel memanggil polisi. Menurut dokter dari Departemen Penyidikan Kriminal, itu adalah pisau cendera mata khas Sylt, mirip pisau berburu zaman dahulu. Benda tajam itu di­hujamkan dengan keras ke dada kiri mayat, menembus jantungnya, lalu diputar 1800, Polisi tidak menduga ini perbuatan pemakan mayat. Mereka menyangka, ini tentuulah musuh keluarga almarhumah. Sampai berbulan-bulan mereka tidak mampu mene­mukan petunjuk ke arah si pelaku.

Tanggal 30 Mei tahun itu juga, terjadi peristiwa yang menggemparkan di Flensburg. sebuah kota Jerman yang berbatasan dengan Denmark.

Kota itu oleh sebagian orang dijuluki Kota Maksiat, karena merupakan markas penjualan barang-barang yang biasa dijumpai di sex-shop.

Peristiwa yang menggem­parkan itu bukan terjadi di markas penjualan baran-g­barang maksiat, melainkan di Pemakaman Muhlen.

Malam itu bulan hampir purnama. Keesokan paginya, seorang wanita muda berna­ma Marion Steiger berlari ter­birit-birit di jalan dekat kubur­an, lalu pingsan di trotoar. Untung, sekitar kuburan itu ada rumah-rumah. Seorang ibu rumah tangga cepat-cepat menelepon polisi dan ambu­lans. Ketika wanita muda itu siuman kembali, kelihatan benar ia sangat terguncang. Ceritanya kacau. Akhirnya polisi membiarkan petugas ambulans membawa wanita itu ke rumah sakit. Mereka sendiri pergi ke jurusan yang ditunjukkan oleh ,nyonya rumah sebagai tempat keda­tangan sang wanita muda.

Di jurusan itu cuma ada kuburan. Ketika polisi menje­nguk ke pemakaman itu, me­reka menemukan tas tidak jauh dari pintu gerbang. Di dalam tas itu ada kartu iden­titas wanita muda itu dan beberapa barang pribadi. Tak jauh dari sana mereka mene­mukan sebelah sepatu wanita. Lebih jauh kemudian ditemu­kan sepatu yang sebelah lagi. Setelah itu mereka menemu­kan bunga yang rupanya ron­tok dari karangannya. Dengan mengikuti rontokan bunga, mereka tiba di suatu tempat yang tidak menunjukkan ke­anehan apa-apa.

"Coba, cari makam sese­orang bernama Steiger," kata polisi yang paling senior dari ketiga petugas patroli. "ja­ngan-jangan ada binatang menggali makam itu."

Ternyata makam Helga Steiger baik-baik saja. Namun, ketika mereka menoleh ke ba­risan makam yang bersebelah­an, terlihat bekas tanah galian.

"Perampok makam!" seru seorang di antara mereka se­raya berlari untuk memeriksa. Temannya secara otomatis mencabut pistol untuk berjaga­jaga. Namun, bukan perampok makam yang mereka jumpai.

Sebuah makam digali sam­pai seluruh petinya kelihatan. Salah sebuah ujung peti di­jebol dan mayat di dalamnya ditarik sampai bersikap duduk. Tangan mayat terletak di ba­gian tutup peti yang utuh, se­perti posisi tangan murid SD yang sedang menyimak. Ma­yat itu mestinya laki-laki, se­bab mengenakan setelan Jas. Namun,- kepalanya lenyap di­pancung. Tidak heran kalau Marion Steiger semaput!

Menurut Dr. Theodore Fich­tenbauer yang diperbantukan ke Departemen Penyidikan Kriminal di Kepolisian Flens­burg, jangan-jangan ada orang yang memerlukan teng­korak. Mungkin seorang pe­muja setan, atau orang yang menuntut ilmu gaib, atau bisa juga seorang mahasiswa ke­dokteran.

"Kalau ia mahasiswa ke­dokteran," kata Fichtenbauer, "paling-paling ia baru duduk di tingkat satu. Soalnya, leher ini dipotong kasar, mungkin dengan pisau daging."

Dua hari kemudian se­orang bernama Karl Konzemi­us menemukan daging tengko­rak itu dalam gubuk di kebun­nya, tetapi tengkoraknya tidak ada.

Drakula atau pemuja setan?

Inspektur Richard Brink­mann menduga perbuatan keji ini dilakukan oleh pemuja setan, yang beberapa tahun ter­akhir bermunculan di pelbagai tempat. Jadi selama satu setengah tahun ia melakukan penyidikan yang cermat di ka­langan pemuja setan. Hasilnya nihil.

Seperti polisi Hamburg, In­spektur Brinkmann pun mengi­rimkan edaran ke semua kan­tor polisi di Jerman. la segera mendapat tanggapan dari po­lisi Hamburg dan Westerland. Pengurus mayat di Bisselmark pun membaca berita di koran tentang peristiwa-peristiwa aneh yang keji itu. Diam-diam ia mengirim keterangan ke­pada polisi mengenai peng­alamannya sendiri. Cuma ia meminta agar identitas mayat yang diceritakannya itu dira­hasiakan, untuk menjaga perasaan keluarga almarhumah.

Inspektur Brinkmann yakin, pemuja setan ini memiliki ja­ringan luas, sedikitnya di Hamburg, Sylt, dan Flensburg. Asistennya mempunyai penda­pat yang berbeda.

"Peristiwa-peristwa ini tidak memiliki pola yang sama," ka­tanya. "Flensburg merupakan tempat satu-satunya di mana ada bagian tubuh yang dibawa pergi dan ada indikasi seksual yang jelas. Di Bissel­mark korbannya wanita dan Juga menunjukkan indikasi seksual, walaupun dalam de­rajat yang kurang dibanding­kan dengan di Hamburg. Di Westerland korban tidak diganggu, kecual ditikam di bagian jantung."

"Hal ini bisa menunjukkan bahwa insiden-insiden ini di­lakukan oleh pelaku yang ber­beda-beda, atau oleh satu orang yang tidak mengikuti pola yang rasional. Saya cen­derung menduga yang ter­akhir," kata asisten itu.

"Saya kira selama cuma mengganggu mayat, ia tidak berbahaya bagi manusia hi­dup, walaupun perbuatannya itu keji dan menyusahkan," kata asisten itu pula.

"Menurut Theodore, orang itu necrophile, pencinta ma­yat," kata bosnya. "Tapi kalau ia mencintai mayat, mengapa ia menikam dan bahkan me­mancung mayat? Selain itu, apa betul ia tidak berbahaya bagi manusia hidup? Coba lihat laporan ini. Apakah ini bukan perbuatannya?"

Menurut laporan itu, pada tanggal 27 Juni 1971, serom­bongan penduduk Feucht ber­jalan-jalan di hutan, di barat kota mereka. Feucht terletak ± 8 km dari Nurnberg, sebuah kota besar di Jerman Selatan. Tahu-tahu mereka memukan mayat seorang wanita dekat jalan setapak.

Kemudian wanita itu dikenali sebagai Martha Kruger, seorang ibu rumah tangga berumur 36 tahun. Penduduk Feucht itu tewas akibat peluru senapan kaliber .22 yang menembus pelipis kirinya. Selain itu di tubuhnya terda­pat 14 bekas tusukan pisau yang dalam dan lebarnya bervariasi. Beberapa di antara luka itu memperlihatkan bekas gigitan dan sidik bibir manu­sia. Diperkirakan pembunuh menggigit dan meminum darah korbannya.

"Itu sih Drakula, bukan pemakan bangkai!" seru asisten Inspektur Brinkmann. Menurut laporan itu pula, di atas mayat Martha Kruger dijumpai anaknya yang ber­umur 3 tahun, Lydia Kruger. Gadis itu menangis ketakutan dan tubuhnya berlumur darah ibunya. Lydia ternyata tidak diganggu sedikit pun. Menurut keterangannya kepada para penemunya dan kemudian ke­pada polisi, "Ibu jatuh. Bapak itu menusuknya dengan pisau. Terus, bapak itu mau me­makan Ibu."

"Pembunuh itu pasti orang gila yang mengira dirinya Drakula," komentar sersan yang menjadi asisten Inspektur Luders.

Drakula-drakulaan itu tidak meninggalkan jejak, kecuali be­kas gigitan yang ternyata sama dengan gigitan pada mayat Kathe Bauer di Hamburg.

"Mustahil!" kata sersan itu. "Baru sekali ini saya mende­ngar ada pemakan mayat merangkap vampir. Vampir 'kan pengisap darah. Darah mayat 'kan tidak diisap."

"Bisa," jawab atasannya. "Asal belum lama meninggal­nya. Menurut Theodore, darah mayat mula-mula mengental, lalu menjadi cairan kekuning­kuningan."

Drakula membaca koran

Tanggal 7 November 1971, untuk pertama kalinya pe­makan mayat/vampir/pencinta mayat atau orang gila itu beraksi di tempat yang sama dengan yang pernah dikun­junginya.

Beberapa hari sebelumnya, yaitu tanggal 3 November, George Weichert (40) dan pu­trinya, Steffi (15), menumpang sebuah mobil. Di perjalanan, pengemudi mobil tidak bisa menguasai kemudi. Mobil nyelonong ke luar dari jalan, lalu terguling-guling beberapa kali sebelum terjatuh ke hutan yang letaknya ± 30 m dari jalan.

Kecelakaan itu ter­ jadi di persimpangan jalan ke Feucht, ± 1 km dari hutan tempat Martha Kruger ditikam.

Sopir mobil itu anehnya cuma memar-memar saja, tetapi George Weichert tewas seketika. Putrinya luka parah dan meninggal di rumah sakit keesokan harinya. Tanggal 6 November, mereka dimakam­kan bersebelahan di Perna­kaman Nurnberg.

Tanggal 7 November 1971 pagi, seorang pemuda berna­ma Horst Weber bermaksud mengunjungi makam salah seorang kerabatnya. Ketika itulah ia menyaksikan peman­dangan yang paling menye­ramkan dalam hidupnya.

Steffi Weichert sudah digali dari kuburnya. Ia duduk te­lanjang bulat di samping lu­bang kuburnya, dengan ber­sandar ke tumpukan tanah. Kepalanya menengadah dan matanya yang tidak bersinar lagi itu melotot.

Darah segar menitik dari bibirnya, ke dagu dan dada gadis cantik ini. Ketika angin bertiup, rambutnya yang pirang itu berkibar, seakan-akan mayat itu bergerak.

Horst Weber sebenarnya tidak percaya cerita Drakula, yang di film-film digambarkan bangkit dari kubur pada saat bulan purnama untuk mengisap darah manusia, lalu kembali ke kubur ketika fajar mennyingsing. Saat itu matahari baru mengintip, di langit November yang kelam. Menyaksikan adegan yang mengerikakan itu, segera saja Horst Weber mengambil langkah seribu.

Sebagal warga Negara yang bertanggung jawab, ia langsung berlari ke arah kantor polisi yang lumayan jauh dari sana. Untunglah di perjalanan ia berpapasan dengan polisi yang sedang patroli.

"Ada vamp ...! Ada yang tidak beres di kuburan!" katanya. Tadinya ia ingin memberi tahu ada vampir, tetapi takut polisi tidak percaya. Salah-­salah ia diangkut ke kantor polisi untuk diperiksa oleh psikiater. Ternyata polisi malah berseru.

"Astaga! Vampir mendapat ­mangsa lagi! Eh, Bung! Tolong ­cepat beritahu rekanku di kantor. Aku butuh bantuan. Sekarang aku akan mengejar ke kuburan."

Polisi itu mengeluarkan pistolnya sebelum berlari ke arah kuburan. Horst Weber, sepert layaknya orang Jerman yang taat pada peraturan, melaksanakan pesan polisi itu, walaupun ada rasa waswas keterangannya akan dianggap isapan empol seorang sinting. Ternyata polisi yang menerima kedatangannya segera percaya.

Beberapa orang polisi se­gera berangkat dengan mobil, sementara sersan yang bertu­gas di kantor menelepon In­spektur Julius Misner yang menangani kasus Kruger. Minggu pagi itu Inspektur ada di ru­mahnya. Ia menjemput asis­tennya, Sersan Detektif Hans Bohm dan Dr. Jurgen Platt.

Ini sih bukan vampir. Ini gadis yang tewas akibat ke­celakaan hebat. Mungkin ka­rena kecelakaan lalu lintas," kata dokter.

"Orang yang menemukan­nya, melapor melihat vampir. Mungkin karena ia ketakutan," jawab Inspektur. "Anda dulu memeriksa jenazah Martha Kruger dan Anda pernah di­beri tahu perihal pemakan mayat/vampir yang terjadi di Jerman Utara. Apakah jenis kasus ini sama?"

Dokter itu mengangguk dan memeriksa jenazah dengan saksama. Darah di mulutnya bukan darahnya," katanya, "Orang itu mencium mayat ini dengan mulut penuh darah. Mungkin darahnya sendiri. Kejadiannya kira-kira tengah malam. Di payudara kiri ada sayatan. Ia mengisap darah korbannya yang sudah tidak segar lagi karena gadis muda ini sudah meninggal 3 atau 4 hari. Ada bagian daging di sayatan ini yang dikunyah."

"Dalam kasus di Hamburg, ia melukai dirinya sendiri dan menekankan lukanya ke per­gelangan tangan mayat gadis, itu."

"Di sini prinsipnya sama. Seperti di Hamburg ia berusaha memperkosa mayat, tetapi tidak berhasil. Pelakunya mestinva sama. Mustahil ada dua orang yang memiliki kelainan serupa gentayangan pada wakyu yang sama di Jerman ini?"'

"Seorang necrophile dan se­orang pemakan mayat, Cuma akan mengganggu mayat. Tapi kalau orang itu menganggap dirinya vampir, kita akan me­nemukan kasus seperti Martha Kruger. Mungkin ia mengisap darah mayat hanya karena tidak berhasil memperoleh da­rah manusia hidup." Begitu pendapat Dr. Platt.

"Saya bukan ahli psikologi abnormal," kata Inspektur Mis­ner. "Tapi saya mempunyai banyak pengalaman mena­ngani kejahatan seks. Biasanya pelakunya mula-mula cuma melakukan tindakan yang relatif tidak berbahaya. Ada yang tidak bertindak lebih jauh daripada sekadar mempertontonkan hal yang tidak perlu diperlihatkannya kepada wanita dan anak-anak, ada pula yang makin lama makin parah, sampai memperkosa dan membunuh."

"Kalau kasus-kasus di Jerman Utara dan Selatan ini dilakukan oleh satu orang, berarti cuma dari pengganggu mayat, ia berkembang lebih parah sampai menjadi pembunuh manusia, lalu merosot menjadi pembongkar mayat lagi," komentar sersannya. "Apakah mungkin hal seperti itu terjadi? Ataukan ia sekadar orang gila?"

"Saya tidak tahu. Pemakan mayat ataupun orang gila, ia tidak meninggalkan jejak, kecuali darahnya, telapak sepatu, dan bekas gigitan. Mungkin ia licin sekali, mungkin pula ia cuma beruntung," jawab atasannya.

"Oh, ya, masih ada hal lain," sambung Misner. Ia pasti pembaca koran, sebab ia tahu siapa yang baru dikubur dan di mana. la tidak mengganggu makam lain."

Petugas pemakaman dimata-matai

Mulai hari itu, diam-diam polisi Nurnberg menghadiri pemakaman gadis-gadis muda yang meninggal. Dengan berpakaian preman mereka mengawasi para pelayat.

Tugas itu tidak berat. Yang berat ialah tugas menunggui makam pada malam hari yang dingin dan gelap. Biasanya polisi yang paling muda dan paling barulah yang ketiban melakukan hal ini. Tidak jarang mereka pura-pura sakit supaya terhindar dari kewajiban itu.

Akhirnya pekerjaan yang sia-sia itu dihentikan.

"Jangan-jangan pemakan mayat keparat itu sudah kembali ke Utara," kata Inspektur Misner.

la keliru. Si pemakan mayat masih berkeliaran di Selatan. Cuma saja ia lebih berhati-hati.

Pada awal Mei 1972, George Warmuth, petugas tempat penitipan mayat di Pemakaman Nurnberg Barat, mengeluhkepada istrinya "Ellie, aku curiga, ada yang menggerayangi jenazah-jenazah. Tapi mana mungkin sih, ya?"

"Mustahill Siapa sih yang mau berbuat demikian?" awab Ellie.

Mereka belum pernah mendengar tentang mayat Steffi Weichert. SoaInya, polisi jerman t1dak membeberkan kejadian itu kepada umum supaya orang yang dicurigai tidak bisa berkata bahwa mereka mengetahui hal itu. dari koran.

Warmuth bahkan tidak tahu bahwa selama 5 bulan tempat kerjanya dan ia sendiri pernah diamat-amati polisi. Begitu pula rekan-rekannya

"Siapa ya, yang iseng? tanya Warmuth kepada istri-nya. "Jangan-jangan salah seorang dari penggali kubur. 'Kan mereka sudah terbiasa dengan mayat. Orang lain sih boro-boro mau dekat-dekat."

"Apa untungnya mengerayangi mayat?" tanya istrinya yang bekerja sebagai pembersih kamar mayat. "'Kan mereka belum dipakaikan perhiasan dsb."

"Malam ini aku ingin mengintip, supaya bisa menangkap basah orang itu," jawab suaminya.

Kalau saja George Warmuth tahu ada pemakan mayat di Nurnberg, pasti dia agak gentar, walaupun sebagai veteran perang ia merasa dirinya tidak takut kepada apa pun.

Malam itu, selesai makan, ia tidak menonton acara kegemarannya di TV. la menyelinap ke kantornya dan duduk menunggu dengan sabar di dalam gelap.

Tanggal 5 Mei 1972 itu cuaca menyenangkan, sebab awal musim semi. Beberapa saat sebelum pukul 22.00, didengarnya derit pintu menuju ke ruang tempat peti jenazah biasa diletakkan sebelum dibawa ke makam. Pintu itu terbuka dan tertutup dengan perlahan. Warmuth berdiri. Ia tahu ke mana tujuan orang yang membuka dan menutup pintu itu. Pasti ke ruang bawah tanah, tempat mayat-mayat ditaruh.

Ia berniat mendahului orang itu. Tangga memang berada dekatnya. Rencananya, Warmuth akan bersembunyi di salah sebuah relung yang ada di ruang bawah tanah itu. Alangkah terkejutnya ia ketika tiba, karena ruang itu terang. Apakah orang itu mampu mendahuluinya secara gaib lalu menyalakan lampu?

Lalu Warmuth teringat, bahwa istrinya tadi member­sihkan ruang itu. Walaupun sudah terbiasa dengan peker­jaannya, Ellie tidak berani berada di sana dalam keada­an gelap. Jadi setiap, kali se­lesai bekerja, ia membiarkan lampu menyala. Maklum tom­bol lampu berada di tengah, bukan dekat tangga. Ia takut berjalan dalam gelap sepan­jang setengah ruangan.

Cepat-cepat Warmuth me­matikan lampu, lalu masuk ke salah sebuah relung. Tak lama setelah itu kedengaran bunyi langkah menuruni tangga. Orang itu berjalan tanpa ragu-ragu ke tengah, lalu me­nyalakan lampu. Tampaknya ia hafal di mana ada tombol lampu. Begitu lampu menyala, Warmuth tercengang, sebab itu bukan karyawan tempat penitipan mayat. Bahkan War­muth belum pernah melihat­nya. Kalau saja Warmuth ta­hu, bahwa orang itu adalah pemakan mayat yang dicari­cari polisi Nurnberg, ia pasti lebih tercengang lagi.

Orang cebol

Orang itu jauh dari menye­ramkan. Tubuhnya agak kontet dan tidak kekar. Rambutnya gelap, bergelombang, dan hi­dungnya bulat. Pria itu mengenakan kacamata berbing­kai metal, yaitu jenis kacama­ta murah yang bisa dibeli dengan asuransi kesehatan.

Walaupun penampilannya begitu, tetapi dengan tidak ragu-ragu ia mendekati peti jenazah berisi seorang wanita berumur 37 tahun yang baru dibawa ke tempat penitipan mayat itu sehari sebelumnya.

Warmuth mengira pria itu membuka mulut mayat untuk mencari gigi emas. Ternyata ia keliru. Si Cebol memegang pipi mayat dan mencium bibir mayat itu. Saking tidak men­duga, Warmuth sampai me­lompat dan kaki celananya tersangkut sesuatu sampai ia terjerembap ke lantai.

Warmuth mengira si Cebol akan terkejut dan kabur. Ter­nyata pria itu tetap, menekan­kan bibirnya ke bibir mayat, seakan-akan tidak terjadi sesuatu di dekatnya.

Warmuth bangkit, lalu menjambret pundak si Cebol.

"Hei! Apa-apaan kaul" seru Warmuth.

Si Cebol berbalik dan men­cabut pistol otomatis dari balik jasnya. Sebelum Warmuth yang tinggi besar sempat be­reaksi, perutnya sudah kena tembak. Ia terjatuh kembali. Sementara itu si Cebol de­ngan tenangnya menyimpan kembali pistoinva, lalu berlari menaiki tangga.

Dengan bersusah payah Warmuth merangkak ke kan­tornya dan menelepon ambu­lans yang khusus disediakan untuk keadaan gawat darurat. Setelah menelepon Warmuth pingsan.

Untung saja ambulans da­tang dengan segera, kalau ti­dak Warmuth pasti tewas ke­habisan darah. Peluru 7.65 mm menembus usus besar, usus kecil, dan kandung kemihnya. Berkat penanganan yang cepat, 48 jam kemudian ia sudah mampu menggam­barkan tamu aneh yang menembaknya itu. Saat itu hari Minggu, 6 Mei 1972. Inspektur Misner khusus datang ke rumah sakit.

Di kantor polisi, pelukis mencoba melukiskan si pe­nembak berdasarkan keterang­an yang diberikan oleh War­muth. Keterangan itu direkam dalam kaset. Belum lagi lukis­an rampung, Inspektur Misner sudah ditelepon dari Desa Lindelburg, ± 20 km di sebelah timur Nurnberg. Peneleponnya adalah seorang penjaga hutan bernama Werner Baranek.

Keterangan Baranek tidak keruan, karena ia belum pulih dari rasa kaget.

"Tenang. Coba tenangkan diri dulu," kata Inspektur. "Si­apa menembak siapa?"

Baranek yang baru berlari 3 km mencoba mengatur na­pasnya yang terengah-engah.

"Pasangan muda itu me­markir Mercedesnya, ± 100 m dari belokan di Wolkersdorf. Saya datang dari Lindelburg, kira-kira setengah jam yang lalu. Saya lihat mobil itu. Pin­tu-pintunya terbuka. Saya lihat pria bertubuh kecil, berkaca­mata, dan bertopi kulit sedang melakukan entah apa dekat mobil itu. Ketika melihat saya, ia kabur. Ia menunggang sepeda motor merahnya dan melaju ke Wolkersdorf.

"Karena merasa curiga, saya hampiri mobil itu. Saya lihat seorang remaja pria di bangku depan dan seorang gadis muda di bangku belakang. Keduanya berselubung selimut di mobil. Ketika saya tarik selimut mereka, ternyata keduanya penuh darah. Me­reka sudah tewas. Saya segera melepaskan tiga tem­bakan pemberi isyarat ke udara, tetapi tidak ada orang yang mendengarnya. Akhirnya saya berlari ke. Lindelburg untuk menelepon.'"

"Tinggallah di tempat Anda berada sekarang. Kami segera berangkat ke sana," jawab Inspektur.

Misner memerintahkan anak buahnya agar menge­rahkan kendaraan ke Lindel­burg.

"Kita bawa gambar yang dibuat berdasarkan keterangan Warmuth. Kita cari pria kecil berkacamata yang mengen­darai sepeda motor merah."

Sore itu, Dr. Platt menyata­kan bahwa peluru yang ber­hasil dikeluarkan dari jenazah Marcus Adler (24) dan Ruth Lissy (18), sama dengan yang diambil dari perut George Warmuth.

Adler adalah pemilik per­usahaan transportasi di Bruch­sal, 75 km dari Nurnberg. Ia datang mengunjungi tunang­annya, Ruth Lissy, lalu rupa nya mereka berpacaran di tempat sepi. Setelah itu mere­ka tidur di mobil. Seorang di depan, seorang di belakang. Menurut rekonstruksi kemudi­an, si Cebol mendekati dan menembak kepala mereka. Keduanya tewas seketika. Si Cebol menembak Ruth sekali lagi di bawah payudara kiri dan mengisap darahnya. Sidik bibirnya dijumpai juga di kepala Adler.

Pada saat ia mulai meng­gerayangi mayat Ruth, mun­cullah Beranek.

"Pria itu sangat berba­haya," kata Inspektur Misner. "Soalnya, ia bukan cuma merupakan ancaman bagi orang mati, tetapi juga bagi manusia hidup."

Karena itulah polisi Nurn­berg melakukan patroli gen­car. Setiap pengendara sepe­da motor merah dihentikan, sedangkan gambar yang dibuat berdasarkan keterangan Warmuth dipasang di tempat-­tempat umum. Menurut War­muth dan Beranek, gambar itu mirip, dengan pria kecil yang mereka lihat. Stasiun-stasiun radio dan TV pun berulang­ulang meminta bantuan ma­syarakat untuk membantu polisi.

Mustahil dia?

Empat hari lewat sejak poster-poster dipasang oleh polisi. Radio dan TV belum berhenti menyiarkan per­mintaan bantuan. Namun, belum juga ada hasilnya.

Sementara itu, Helmut Kostan, seorang karyawan perusahaan transportasi yang sudah setengah umur merasa gundah. Pria bertubuh kekar itu belasan kali ingin melapor kepada polisi, tetapi ia ragu-­ragu.

"Mustahil rekan sekerjaku bisa berbuat keji begitu?" pi­kirnya. Kostan dengan saksa­ma membaca berita mengenai kasus pembunuhan atas Mar­cus Adler dan Ruth Lissy. Menurut Baranek, pria yang diduga keras sebagai pem­bunuh kedua orang muda itu mengenakan topi kulit dan mengendarai sepeda motor merah. Rekan sekerja di se­belahnya, Kuno Hofmann yang biasa memuat barang ke truk bersama dia, kadang-­kadang memakai topi kulit dan sepeda motor merah. Hof­mann pun bertubuh kecil, be­rambut gelap bergelombang, berhidung bulat, dan memakai kacamata berbingkai logam dari asuransi kesehatan.

Kata George Warmuth, penembaknya mengenakan setelan jas bergaris-garis kelabu dan coklat, sweater hitam atau biru tua, celana coklat antikerut, dan sepatu hitam bergesper logam berki­lat. Sebulan sebelumnya, Hel­mut Kostan pernah melihat Kuno Hofmann mengenakan pakaian seperti itu.

Menurut Warmuth, orang itu tidak terkejut ketika ia jatuh terserimpet. Hal itu tidak mengherankan bagi Kostan, sebab Kuno Hofmann bisu tuli!

Walaupun gambaran itu tepat sekali dengan gambaran Kuno Hofmann, Kostan masih ragu-ragu. Ia takut menuduh orang yang tidak bersalah. Kuno Hofmann boleh bisu tuli, tetapi kerjanya cekatan. Ia juga disukai rekan-rekannya di perusahaan Demerag Trans­port. Soalnya, ia tidak mung­kin cekcok mulut dengan siapa pun.

Namun, tanggal 10 Mei 1972, Kostan terdorong untuk melapor juga. Soalnya, ketika tiba di kantor pagi-pagi, ia melihat Kuno Hofmann me­makai setelan kelabu yang rapi, bukan pakaian kerja. Menurut mandor, Kuno minta berhenti. Pada secarik kertas, Hofmann menulis bahwa ia akan ke Hamburg.

Dua menit kemudian, Kostan sudah berada di telepon umum. Ia berbicara dengan Sersan Bohm di markas besar polisi.

"Mungkin ia bukan orang yang Anda cari," katanya. "Tapi kok penampilannya sama. Lebih baik Anda cepat datang, sebab sebentar lagi ia akan pergi. Ia tinggal me­nunggu gajinya dibayarkan."

Kurang dari 2 menit kemu­dian, sersan dan tiga rekan­nya sudah ngebut di jalan dalam mobil polisi yang si­renenya meraung-raung. Ke­tika mereka tiba, seorang pria kecil berkacamata melangkah ke luar dari kantor sambil memegang sampul gajinya.

Sering digebuki

Kuno Hofmann bukanlah orang yang pandai. Ia bukan pula pemberani. Penampilan­nya mencerminkan dirinya: pemalu dan terbelakang mental. Begitu mobil polisi masuk halaman Demerag Transport dan para detektif melompat ke luar, ia segera kabur. Namun, mana mungkin langkahnya yang pendek itu bisa mengalahkan langkah para polisi yang lebih muda, lebih kuat, dan lebih gesit. Sekejap saja ia sudah dibekuk.

Tak lama kemudian mobil-mobil patroli tiba dan Hof­mann dibawa dengan salah sebuah di antaranya ke kantor Departemen Penyidikan Kriminal.

Sementara itu Sersan Bohm dan beberapa rekannya menuju ke kediaman Hof­mann, yang alamatnya mere­ka peroleh dari Demerag.

Di kamar sewaan Hofmann, mereka menemukan sebuah pistol otomatis Czech VZOR 7.65 mm. Penelitian balistik kemudian membuktikan bahwa itulah pistol yang dipakai membunuh Marcus Adler dan Ruth Lissy serta melukai George Warmuth. Dijumpai pula tengkorak yang dicuri di Flensburg. Tengkorak itu sudah licin digosok.

Selain itu dijumpai pel­bagai buku saku tentang ilmu gaib, vampir, dan setan. Hofmann rupanya mengang­gap isinya serius.

Di kantor polisi, Hofmann yang berumur 41 tahun itu mengakui sebagian besar kejahatan yang dituduhkan kepadanya. Ia bahkan me­nambahkan sejumlah lagi yang tidak diketahui oleh polisi.

Ternyata ia putra seorang penjahat profesional. Ayahnya yang pernah dihukum 19 kali itu sering menggebuki Kuno dan kakak laki-lakinya ketika mereka masih kecil, sampai keduanya menjadi bisu tuli. Pernah kedua lengan Kuno sampai patah. Gebukan di luar batas yang diterimanya semasa kecil itu mempe­ngaruhi juga kecerdasannya. IQ-nya cuma 70. Ia juga menghadapi masalah seksual, sampai kakak perempuannya pernah menyarankan agar ia membeli boneka karet yang dijual di toko-toko, seks untuk mengendalikan dorongan yang tidak normal.

Ternyata Hofmann bukan orang baru untuk polisi. Cuma saja bukan karena melakukan ­kejahatan seksual. Ia sering kali mencuri dan dijatuhi hukuman penjara. Kalau dijumlahkan, hukuman itu seluruhnya mencapai 9 tahun penjara.

Sebenarnya ia mampu mencari nafkah secara me­madai. Hidupnya pun tidak kesepian, sebab ia mempunyai kakak laki-laki dan perempuan dan sering tinggal bersama mereka. Ia juga disukai oleh kaum pria rekannya bekerja.

Masalah besar yang diha­dapinya adalah seks. Ia tidak mendapat kepuasan di rumah-rumah pelacuran, sebab yang dicarinya adalah cinta. Ia ingin mempunyai keluarga. Pernah ia jatuh cinta pada seorang gadis bisu tuli pula. Rencana pernikahan mereka berantakan, ketika orang tua gadis itu mengeta­hui Hofmann pernah masuk penjara.

Tak lama setelah itulah ia senang membaca buku-buku sihir. Kuno Hofmann minum darah mayat dan berusaha berhubungan intim dengan jasad-jasad tidak bernyawa, karena ia yakin hal itu akan mengubahnya menjadi besar, kuat, dan tampan. Pria yang besar, kuat, dan tampan bisa menikah dan memiliki keluar­ga.

Ketika darah mayat yang sudah meninggal beberapa hari ternyata tidak mempan, ia beralih ke darah segar dengan membunuh Adler - Lissy. Waktu itu ia sedang lewat di dekat tempat mereka memarkir mobilnya. Keduanya sedang tidur. Ternyata darah mereka pun tidak mempan. Ia menarik kesimpulan bahwa hal itu disebabkan karena Ruth Lissy bukan perawan lagi.

Di penjara ia tetap yakin bahwa darah perawan bisa mengubahnya menjadi besar, kuat, dan tampan. Jadi ia rajin menulis surat ke pihak yang berwenang, agar sudi mengi­rimkannya beberapa liter darah segar yang diambil dari perawan. Ia tidak pernah diadili karena dianggap tidak mampu mempertanggungja­wabkan perbuatan-perbuat­annya. la dikirim ke rumah perawatan untuk penderita penyakit jiwa dan akan ting­gal di sana sampai akhir hayatnya.

Sejak itu tak ada lagi ku­buran dibongkar dan orang dibunuh untuk diisap darahnya. q (John Dunning/HI/nonfiksi)

1 komentar:

  1. Cerita yg menarik mas.., tp terlalu bnyk nama cukup membuat pembaca lebih keras berpikrnya..
    Btw, semua sajian yg asyik untuk diambil hikmahnya

    BalasHapus